Bumi Cinta, Novel Kang Abik yang Penuh Kejutan

Bumi Cinta, Novel penuh suspens dari Kang Abik

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh-hatilah kamu dan sebutlah (nama) Alloh sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada Alloh dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Alloh bersama orang-orang yang sabar. Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Alloh. Dan (ilmu) Alloh meliputi apa yang mereka kerjakan.” (Q.S. Al Anfal: 45-47)

Kali ini saya akan mencoba membuat resensi novel terbaru dari Habiburahman El Sirazy (yang parahnya baru saya baca karena sudah lama ngincer tapi tak terbeli). Semoga resensi ini bisa menjadi acuan njenengan para pembaca yang ingin ikut serta membaca novel menarik ini. Dan semoga review ini tidak basi untuk mengingatkan kembali cerita yang sudah pernah dinikmati para penggemar karya Kang Abik yang sudah lama menjadi Best Seller ini.

Inilah karya termutakhir dari Habiburrahman El Sirazy, adikarya novelis no.1 Indonesia peraih penghargaan SASTRA NUSANTARA tingkat Asia Tenggara yang berjudul Bumi Cinta. Novel yang diterbitkan oleh Penerbit Basamala setebal 546 halaman ini menceritakan kisah romansa religi khas Kang Abik tentang seorang pemuda salaf bernama Muhammad Ayyas yang hidup di negeri komunis penjungjung tinggi paham seks bebas, Rusia. Novel menarik dari Kang Abik yang cukup berbeda dari karya-karya beliau sebelumnya yang selalu mengambil setting daerah Timur Tengah. Sangat pantas njenengan yang mendambakan kejutan baru Kang Abik dari awal hingga akhir cerita yang tentu sangat berbeda dengan kisah di negeri Timur Tengah.

Tersebutlah Muhammad Ayyas, seorang pemuda Indonesia jebolan Pesantren Kajoran Magelang dan lulusan Universitas Islam Madinah yang mengembara ke Negeri Tirai Besi, Rusia. Sebuah negara yang dulunya menjadi imperium para penganut paham Komunis dan sekarang berevolusi menjadi negara penganut seks bebas dengan peringkat nomor satu untuk pengakses situs pornografi di dunia, satu tingkat di atas Indonesia. Ia mengadu nasib di negeri tersebut bukan tanpa sebab, bukan untuk pelesiran atau menghabiskan uang, studi tesisnyalah tentang sejarah Islam di Rusia yang mengantarkan ia ke negara yang sangat rawan bagi idealisme salafnya. Banyak godaan yang akan beresiko untuk meruntuhkan keimanannya jika ia tidak berhati-hati, terutama godaan syahwat dari para nonik Rusia yang kemolekannya sangat melegenda.

Kekhawatiran Ayyas tidak menggantung lama. Seketika setelah menjejakkan langkah di tanah Rusia yang putih oleh salju, kegalauannya terbukti tepat jatuh ke dalam relung prasangkanya sebelum mantap tiba di Rusia. David, kawan lamanya semasa SMP yang dipasrahinya bertanggungjawab membimbingnya hidup di Rusia memilihkannya apartement atau kwartina yang sama sekali tidak ia harapkan sebelumnya. Bayangkan, seorang mahasiswa salaf harus tinggal bersama dalam satu ruangan dengan dua orang nonik Rusia yang bertolak belakang paham dengan dirinya. Nonik pertama adalah seorang pelacur kelas atas yang tidak percaya kepada Tuhan, bernama Yelena. Seorang lainnya adalah Linor, gadis jelita berdarah Yahudi yang tanpa sepengetahuan Ayyas adalah seorang agen intelejen Mossad dibalik profesinya sebagai musisi opera. Dan dari kwartina inilah ketenangan hidup Ayyas di Rusia mulai terusik.

Niatan Ayyas untuk menyusun tesisnya tentang Kehidupan Umat Islam di Masa Pemerintahan Stalin ternyata tidak semulus yang ia bayangkan. Prof. Abramov Tomskii, seorang guru besar sejarah Asia Tenggara Universitas Negeri Moskow yang sejatinya ia andalkan untuk menjadi pembimbing penelitiannya selama di Rusia, melimpahkannya kepada asistennya karena ada urusan yang ingin beliau selesaikan di Turki. Ayyas tidak menyangka bahwa pengganti pembimbing sementara tesisnya itu adalah pakar sejarah wanita berparas jelita bernama Anastasia Palazzo.

Selanjutnya bergulirlah kisah Ayyas selama menyelesaikan tugasnya di Moskwa. Singkat cerita, hidup Ayyas di negeri asing ini selalu dikelilingi oleh berbagai macam problema ketiga wanita cantik Rusia tersebut. Kecerdasan, ketegasan, dan keteguhan hati Ayyas, walaupun paras dan tubuhnya jauh dari tampan,Ā  telah mencuri hati Anastasia yang sedang galau karena dijodohkan ibunya dengan seorang Bos Mafia. Yelena yang menemukan cahaya hidup baru bernama Tuhan setelah ditolong Ayyas pada kondisi yang membuatnya hampir mati. Dan konflik batin Linor, gadis berdarah Yahudi kental yang ternyata memiliki hubungan masa lalu dengan Islam dan Palestina, sesuatu yang sangat ia benci bahkan kepada Ayyas.

Seorang pemuda lajang dengan berbagai kesempurnaan dan dikelilingi oleh wanita cantik yang sangat berharap kepadanya. Yah, inilah kesan pertama yang kita tangkap, bahkan mungkin setelah membaca resensi ini. Bagi penggemar karya Kang Abik, mungkin sudah bisa memahami dari pengamatan karya-karya sebelumnya yang temanya senada dengan novel ini, dan memang seperti itulah gaya khas Kang Abik dalam berkisah. Dari beberapa artikel blog yang saya baca, kesempurnaan karakter inilah yang paling sering saya tangkap dari keluhan para pembacanya. Saya, walaupun juga dari awal sudah menyadarinya, tapi bisa memahami motif Kang Abik dari penciptaan karakter yang selalu sempurna ini. Bahwasanya beliau ingin memberikan teladan dan motivasi yang baik kepada para pemuda dengan karakter yang sempurna itu, saya rasa perlu kita dukung dan apresiasi. Tidak ada alasan untuk membuat sesuatu yang sempurna di karya sastra, bahkan Hollywood dan Bollywood pun sering melakukannya. Asal jangan terlalu lebay, kata ABG (seperti saya). Dan kalau boleh saya komentar nakal sedikit, karakter-karakter utama rekaan Kang Abik saya rasa tak ubahnya dengan James Bond yang selalu dikelilingi wanita cantik. Namun yang ini bukan sembarang James Bond yang sering maksiat, mereka adalah agen-agen pilihan Allah yang mempunyai amanah untuk menyampaikan rahmat Islam di Bumi Cinta-Nya.

Di luar permasalahan tentang pencitraan karakter utama yang terlalu sempurna, saya apresiasi novel ini dengan acungan dua jempol d^.^b (hey, bahkan bila pembaca jeli, njenengan akan temukan beberapa kelemahan dari Ayyas yang tidak sesempurna Fahri–Ayat-Ayat Cinta, misalnya). Improvisasi dahsyat dari Kang Abik dengan setting Rusianya, yang berbeda dari novel-novel sebelumnya merupakan hal pertama yang membuat saya berkesan membacanya. Semain berkesan dengan penggambaran suasana Rusia yang sangat detail. Njenegan seakan merasa sedang berjalan-jalan di tengah Moskow yang bersalju menuju stasiun Smolenskaya yang megah, kemudian menjelajahi Moskovskyj Gosurdarstvennyj Universiteit (Universitas Negeri Moskow), menikmati sup borsh dan roti hitam cyorni khleb di stolovaya setelah lelah, kemudian beristirahat dan merasakan khusyuknya sholat di Masjid Prospek Mira. Benar-benar seperti Deja-vu.

Bila pada dua karya sebelumnya Kang Abik selalu menakdirkan karakter utama dengan happy ending pernikahan, ending tersebut tidak akan njenengan temui di novel ini. Malahan yang menikah adalah sahabat Ayyas sendiri, David. Yah, inilah perbedaan lain yang menurut saya improvisasi penulisnya. Saya harap inilah usaha positif Kang Abik untuk mematangkan dan memberi warna pada gaya berkaryanya. Dan bila ending semacam itu membuat njenengan merasa terkejut, maka saya sepakat dengan njenengan. Novel ini memang menjikan adegan-adegan suspens yang akan mengejutkan pembacanya dari awal hingga benar-benar tanda titik penghabisan cerita. Yah, saya serius, kejutannya benar-benar terasa hingga tanda titik di akhir cerita! Kejutan yang membuat kisah novel ini benar-benar menggantung. Tak ada happy ending, yang ada hanyalah sad ending yang menggantung! Benar-benar improvisasi dari Kang Abik! Bagi njenengan yang penasaran, langsung lahap deh novel ini. Priyatnogo chteniya! šŸ™‚

Bonus, sedikit image spoiler:

Kemegahan Stasiun Smolenskaya

Gedung Universitas Negeri Moskow yang gagah

Nikmat hangatnya Sup Borsh

roti hitam Rusia, cyorni khleb

Masjid Prospek Mira a.k.a Masjid Agung Moskow

Advertisements

Habibie dan Ainun–potret cinta sejati Prof. B.J. Habibie

Cover Habibie dan Ainun

“Ainun dan saya bernaung di bawah cinta milik-Mu ini dipatriĀ  menjadi MANUNGGAL sepanjang masa. Hanya dengan tatapan mata saja tanpa berbicara sering dapat berkomunikasi langsung dan mengerti isi hati dan kehendak kami.”

Posting kali ini saya akan coba me-review buku yang baru saja saya baca. Semoga njenengan tidak kecewa dengan tulisan saya ini, maklum baru belajar membuat resensi buku. Kritik dan saran atau pandangan lain terhadap buku ini akan sangat saya harapakan.

Kemanunggalan jiwa yang dipatri oleh cinta yang murni, sempurna, dan abadi. Itulah salah satu pesan dari buku berjudul “Habibie dan Ainun” yang akan selalu terngiang-ngiang di benak kita setelah membacanya. Membaca buku yang ditulis langsung oleh Bapak B.J.Habibie ini seolah kita diajak mengarungi catatan harian cinta seorang Bacharudin Jusuf Habibie dengan Hasri Ainun binti Besari, kekasih abadinya sepanjang masa.

Adalah tepat kiranya bagi Pak Habibie menulis buku ini dengan tujuan salah satunya untuk terapi mengobati kerinduan dan kehilangan istri tercintanya, Ibu Ainun Habibie. Terapi kerinduan dari kehilangan seseorang yang selama 48 tahun 10 hari mendampingiĀ  hidup putra Pare-pare ini. Goresan kenangan tentang cinta tulus dan bakti Ibu Ainun inilah yang sanggup mengisi kekosongan jiwa Pak HabibieĀ  saat masa awal beliau merasa kehilangan.

Kisah cinta Ainun dan Habibie berawal dari pertemuan di Rangga Malela 11B, rumah kediaman keluarga Besari–keluarga besar Ainun–tinggal. Habibie, seorang insinyur yang baru pulang dari Jerman bertemu kembali dengan Ainun, kawan SMA-nya, seorang dokter lulusan FK UI setelah 7 tahun tak pernah jumpa. Perjumpaan secara tidak sengaja itu membawa Habibie muda terlarut dalam kerinduan pandangan mata indah Ainun yang akan selalu dikenangnya. Pandangan mata pada 7 Maret 1962 yang akan menjadi saksi cinta abadi sepasang insan manusia.

Kedua insan yang dipertemukan oleh cinta dari Allah itupun kemudian menikah. Alur kisah pun bergulir tentang cinta dan pengabdian seorang Ainun kepada suaminya. Cinta dan pengabdian Ainun adalah manifestasi ke-MANUNGGGAL-an jiwa, hati, dan batin Ainun dan Habibie. Dengan cinta dan pengabdian itulah yang membuatnya tetap setia mendampingi Habibie. Kesetiaan yang tetap dijaga Ainun walaupun saat menjadi seorang istri seorang asisten peneliti, pejabat teras perusahaan Jerman MBB, bahkan ketika menjadi Ibu Negara sekalipun. Cinta Ainun kepada Habibie tetap sama tulus tak berubah sepanjang waktu. Cintanya dari hati dan jiwa yang manunggal, yang memberi ketenangan kepada Habibie untuk terus menjaga idealismenya membangun negeri pertiwi. Cintanya tetap hidup walau Ainun dan Habibie terpisah dua dunia yang berbeda.

Cukup banyak kita temukan kisah cinta Pak Habibie dan Ibu Ainun di dalam buku ini yang mungkin belum pernah kita ketahui sebelumnya. Buku ini menarik untuk dibaca bagi siapa saja yang ingin mengetahui atau memahami kehidupan seorang insinyur hebat bernama BJ Habibie dari sudut pandang yang berbeda. Selain itu, di dalamnya juga banyak di dominasi oleh kisah kesetiaan Ibu Ainun sebagai seorang istri hingga akhir hayat dari sudut pandang suaminya. Pembaca juga tak hanya dapat menikmati kisah cinta kedua pasangan abadi itu saja, di buku ini juga terselip beberapa puisi dan doa seorang Habibie kepada istrinya.

Keseluruhan kisah di dalam buku setebal 335 halaman ini menurut penulisnya sengaja disajikan mirip novel agar enak dibaca oleh pembacanya. Walaupun demikian, dari awal hingga akhir membacanya saya merasa masih belum bisa menikmati buku ini layaknya kisah sebuah novel. Entah kenapa, saya masih merasa karya Pak Habibie ini lebih pantas saya apresiasikan sebagai sebuah biografi ketimbang novel. Jalan cerita yang terlalu datar dan minimnya metafora,yang menurut saya adalah bumbu rahasia setiap novel, membuat saya hampir bosan membaca hingga di tengah buku. Tidak hanya bosan, kadang saat membaca buku ini saya merasa kurang nyaman manakala ada beberapa kata yang salah edit dan beberapa cerita terkesan diulang-ulang dalam beberapa bab.

Pada awalnya, saya sangat penasaran dengan isi buku ini. Di kota Jogja sendiri saya hampir saja kehabisan buku ini karena ludes terjual hingga bulan Desember 2010 lalu. Siapapun akan mengira, buku ini akan mengisahkan untold story kehidupan pasangan Prof. Habibie dan dr. Ainun. Siapapun juga pasti pernah mengetahui kesetiaan seorang Habibie untuk terus menunggui makam almarhumah istrinya selama 40 hari yang sempat menjadi topik hangat media beberapa waktu lalu. Mungkin inilah yang menurut saya menjadi salah satu pemicu larisnya buku ini di pasaran. Namun saya agak sedikit kecewa setelah membaca keseluruhan kisah di buku ini. Harapan saya untuk mendapatkan kisah kemanunggalan cinta Habibie dan Ainun kurang terobati. Menurut saya, rasanya kebanyakan cerita nyata buku ini lebih mengekspos kehidupan Pak Habibie sendiri dengan bumbu kisah cinta dan pengabdian Ibu Ainun. Gregetnya baru terasa saat detik-detik wafatnya Ibu Ainun. Di bagian akhir buku itulah baru saya rasakan cinta dan sayang Habibie dan Ainun yang membuncah. Cinta yang tumpah-ruah dan sanggup menumpahkan air mata haru.

Terlepas dari beberapa kekurangan di atas, buku ini setidaknya layak mendapat apresiasi lebih dari seluruh penikmat buku, apalagi dari pengagum sosok Habibie karena iktikad baik beliau untuk membagi kisah cinta pribadinya kepada khalayak umum. Saya rasa pembaca juga patut untuk mengapresiasi keberanian beliau untuk menuangkan kisahnya dalam bentuk novel. Suatu peristiwa yang mungkin agak langka bagi seorang profesor engineering sekelas Habibie. Dibalik itu semua buku ini memberikan ilham dan keteladanan bagi para pencari resep spiritual bagi bangunan rumah tangga sakinah. Itulah inti dari pesan dan keteladanan berharga yang dapat kita serap dari buku ini. Selamat membaca! šŸ™‚