Saya Ilfil dengan Saos Tomat!

Saos Tomat Botolan-benda makruh murahan

Hari senin siang yang lalu saya kebetulan tidak terlalu nafsu makan. Yah, hari senin memang biasa saya lewatkan dengan puasa sunah, tetapi senin ini badan saya terasa lemah akibat serangan masuk angin tiba-tiba di pagi hari. Hari senin ini iklim Jogja sedang sendu mendayu, awan mendung bercokol di langit seharian dan kadang disertai gerimis kecil. Iklim yang cocok untuk menghangatkan diri di kamar kos.

Senin siang yang gerimis itu, akhirnya saya rela mengalah pada keadaan. Perut keroncongan tanpa ada niatan puasa sunah memang lebih mengoyak iman tuk menahan lapar. Perjalanan bolak-balik Jogja-Bantul dalam rangka pengarahan umum CPNSD Bantul pun akhirnya mengalahkan perjuangan tubuh saya dalam menghemat tenaga. Yah, saya akhirnya menerima nasib menjadi calon abdi negara untuk, setidaknya 8 tahun, masa depan saya.

Bukan, tulisan ini bukan untuk sarana curhat tentang nasib saya lagi seperti yang sebelumnya. Saya yakin njenengan pasti akan ilfil dengan tulisan curhat ndak penting buatan saya. So, mari kita lanjut ceritanya hingga tibalah saat sarapan siang-menjelang-sore di sebuah area burjo terkenal di Blimbingsari, Cafe Jaya.

Setelah duduk manis di bangku burjo, mirip anak TK nunggu jatah jajan dari gurunya, saya langsung memesan menu andalan dan diva di warung ini: NASi TELor! Sepiring nasi dengan porsi yang mundung-mundung ditambahi sayur yang bervariasi setiap harinya dan ditutup dengan toping telor dadar diatasnya. Hemm…terasa sangat menggugah selera bagi insan2 indekos yang kelaparan. Dengan mengoleskan sedikit sambal dan diluluri beberapa tetes kecap, sempurnalah sudah sajian sarapan siang-menjelang-sore saya! Saatnya disantap dengan biadab!

Sedang asiknya menikmati self-costumized-burjo-culinary kreasi sendiri, masuklah pengunjung baru berwujud mas-mas keriting dekil dan duduk tepat di sebelah saya. Saya semakin yakin bahwa NASTEL burjo ini memang hidangan kebangsaan insan indekos, setelah mas-mas tadi juga memesan menu yang sama dengan saya. Sambil menunggu pesanan datang, beliau memilih ngemil bala-bala dan bala kurawanya.

Bagi saya ngemil gorengan sambil nunggu pesanan masih saya anggap suatu hal yang normal, saya memang kadang melakukannya bila ada jatah uang lebih. Yang saya heran dan membuat sedikit ilfil adalah ketika makhluk pengemil bala-bala tadi menumpahkan banyak sekali SAOS TOMAT BOTOLAN dengan semangat’45 ke camilannya. Bala-bala yang semula berwujud kuning kecoklatan, menjadi merah darah, bagaikan onggokan trombosit raksasa. Hemm…ini baru bala-bala ternikmat di dunia! Begitu mungkin yang ada di benak pemangsa camilan tersebut.

Saya benar-benar ndak habis pikir, apa sih enaknya makan dengan campuran SAOS TOMAT BOTOLAN (STB) yang banyak dijual murah di pasaran?! Saya memang hampir ndak pernah mengonsumsinya dalam berbagai hidangan apapun yang saya makan. Saya lupa kapan terakhir kali makan benda makruh tersebut, dan otomatis membuat saya pun tidak mempunyai cadangan memori untuk mengingat kembali seperti apa rasa persisnya. Yang saya tahu, banyak teman-teman saya begitu menikmati berbagai hidangan, khususnya hidangan bergenre jajan dengan menambahkan banyak sekali kecrutan STB, seperti oknum keriting predator predator bala-bala di atas.

Oke, saya harus jujur, di masa jahiliyah (baca: remaja ABG) saya memang suka ngikut trend mengkonsumsi jajan mie ayam, bakso, batagor, apapun itu dengan tambahan STB. Itupun tidak berlangsung lama. Saya tobat setelah dengar isu dari beberapa teman tentang tidak higienisnya pembuatan STB di pabriknya. Semenjak saat itulah saya menetapkan saos abal-abal ini sebagai barang makruh. Jika dan hanya jika njenengan tahu bahan asal dan cara pembuatan barang makruh ini, maka kemungkinan njenengan akan setuju dengan alasan saya membuat program “quit Saos Tomat Botolan”.

Baiklah, biar saya ndak disebut tukang kibul atau tukang provokasi, mari simak resume beberapa artikel yang sebagian besar saya comot dari Majalah Sekar. Cekidot gan…

BAHAN PEMBUAT SAOS TIDAK SEGAR DAN KURANG HIGIENIS

Panjenengan boleh percaya atau tidak, persis seperti isu yang saya dengar dari teman saya, ternyata bahan pembuat STB ini berasal dari bahan yang TIDAK SEGAR dan disimpan secara KURANG HIGIENIS. Apa bisa njenengan bayangkan seperti apa rasanya campuran tomat, cabai, ubi, dll yang sudah busuk dan disimpan di tempat yang biasa jadi sarang tikus masuk ke perut njenengan sekaligus? Nah, dari bahan-bahan seperti itulah saos yang sering njenengan konsumsi dengan kenikmatan tiada tara. Belum lagi bila njenengan tahu bagaimana botol kemasan saos disimpan dan dibersihkan. Wah, sudah bisa terbayang macam-macam penyakit bersarang di perut kita.

PROSES PEMBUATAN MASING SANGAT TRADISIONAL DAN TIDAK STERIL

Nah, setelah njenengan tahu bahan pembuatnya, marilah kita cermati proses pembuatannya. Untuk membuat saos sambal, pertama dibutuhkan terlebih dahulu bahan-bahan dasarnya. Tepung ubi akan dihaluskan bersama tomat, pewarna buatan, pemanis buatan, cabai, dan masih banyak lagi. Bahan-bahan yang sudah tercampur tersebut lalu dihancurkan secara manual, bukan dengan mesin-mesin yang canggih. Hampir semua pabrik pembuatnya memang pabrik kecil yang tidak punya modal banyak untuk membeli mesin pengolah.

Bagaimana cara penghancurannya? Bahan tomat dan teman-temannya dikumpulkan dalam wadah besar, lalu kemudian diinjak-injak sampai hancur. Proses ini dilakukan hingga berjam-jam. Tak jarang “mesin penginjak” tersebut berkeringat dan sudah pasti keringatnya ikut menetes ke campuran tomat-tomat tersebut. Lumayan kan buat nambahin rasa asin?! 😀

Setelah dihancurkan adonan tomat dicampur dengan tepung ubi. Perbandingannya bisa 80 persen berbanding 20 persen. Artinya 80 persen tepung ubi dan 20 persen tomat. Jadi jangan berpikir kalau saus terbuat dari tomat asli. Itu salah besar!

Nah, setelah tau sekelumit dari kisah panjang SAOS TOMAT BOTOLAN, bagaimana pendapat njenengan? Masih berani bilang benda makruh tersebut enak?

Advertisements

Jumat Pagi yang Menggetarkan Hati

Jumat pagi ini saya sengaja bangun lebih siang. Setelah melaksanakan ibadah wajib Shalat Subuh berjamaah dan men-tadarus-i Al-Quranul Karim yang sudah jarang saya sentuh, tubuh ini merengek manja ingin berbaring. Yah, mungkin karena paksaan jogging pagi  (yang membuat kaki saya sukses pegal2) dan aktivitas kurang penting lainnya yang cukup menguras tenaga sehari sebelumnya membuat tubuh saya merajuk. Subuh ini saya benar-benar merasa damai…

Tidak berselang lama saya tidur subuh, ditengah mimpi indah kuliah Master di Inggris, saya rasakan ponsel Nokia 2626 Pinky bergetar ritmik dua kali, tanda ada 1 SMS masuk. Cukup lama SMS itu saya hiraukan, setelah akhirnya mengalah bangun untuk menilik SMS tersebut karena waktu sudah menjelang siang. Waktu Dhuha itu saya bangun segar dan merasa masih damai…

Entah dari mana datangnya, ada perasaan kurang enak di hati saya setelah melihat preview 2 SMS teratas yang belum terbaca di ponsel. Awal kalimat pesan singkat tersebut sama-sama berawalan kata “Selamat” masing-masing dari Dede’ Nungky dan sobat Fauziyah Amy melalui SMS notifikasi akun Facebook. Jleger…!! Ingatan di otak ini langsung tertuju pada seleksi penerimaan CPNS.

Tiga minggu yang lalu saya memang sempat mengikuti ujian seleksi penerimaan CPNS Kabupaten Bantul. Niatan mengikuti seleksi calon abdi negara tersebut memang bukan murni keinginan saya. Harapan dan “dorongan” orang tua lebih mendominasi dalam intervensi cita-cita hidup saya ini. Saya akui, keinginan untuk menjadi abdi negara memang sangat-sangat kecil, hampir mendekati nol. Realitas tersebut mungkin datang dari stigma negatif saya terhadap PNS yang secara akumulatif terbangun di benak saya semenjak mengikuti Praktek Kerja Lapangan semasa kuliah dulu. Mungkin menjadi PNS akan saya pilih jika pilihan kerja tersebut memang hanya pilihan terakhir yang ada di bumi. Dan mungkin itulah kenyataan idealisme saya saat ini yang belakangan mulai runtuh dengan menghadapi realitas yang ada.

Maka demi meyakinkan diri, saya buka juga kedua SMS tersebut. Sopo nyono, perasaan saya benar 100%. Walaupun tidak semuanya menyertakan kata “CPNS” atau “PNS”, namun dari cara penulisan dan waktu kiriman pesan yang bertepatan dengan hari pengumuman penerimaan CPNS Kab. Bantul, membuat hati ini bisa menilai bahwa pesan tersebut memang murni ucapan selamat lolos CPNS, bukan “selamat ulang tahun”, atau bahkan “selamat menempuh hidup baru.” Dan tanpa disuruh, saya langsung menyalakan PC untuk mengecek kebenaran pesan tersebut di situs resminya.

Sekitar 15 menit waktu berlalu saya ngubek-ubek website resmi penerimaan CPNS Bantul, info yang saya inginkan tidak kunjung ketemu. Perasaan saya sudah campur aduk antara was-was, penasaran, dan frustasi. Ditambah dengan koneksi yang lelet, rasa frustasi semakin menjadi. Akhirnya karena sangat penasaran dan kalut, meluncurlah saya ke loper koran di dekat Kopma UGM dengan sepeda pinjeman tanpa pikir panjang untuk mendapat jawaban penasaran saya di koran KR. Setau saya itulah loper koran terdekat dari kos. Jeng…jeng…ternyata memang benar-benar ada nama saya di pengumuman! Bersama 3 kawan lain dari UGM dan 1 lagi entah dari mana asalnya mengisi penuh daftar pengumuman “pemenang audisi” CPNS untuk formasi Perekam Medis. Hari itu setelah melihat pengumuman di koran saya kecewa, karena di pengumuman putaran kedua ini lagi-lagi media elektronik, website CPNS Bantul, kalah cepat dengan media cetak. Belakangan saya baru tahu, ternyata di website resmi CPNS Bantul saya salah nge-klik link yang ada, sehingga tidak menemukan informasinya lewat media elektronik dan pindah hati ke media cetak. Tapi, saya tetep kecewa dengan pengelolaan website-nya, khususnya saat pengumuman putaran pertama.

Sekembalinya dari loper koran, saya terduduk lesu di kamar kos dengan ditemani rasa syok yang sangat menggetarkan hati saya di Jumat pagi ini. Betapa tidak, saya yang ikut seleksi CPNS ini dengan iseng-iseng dan setengah hati karena “dorongan” dari orang tua, bisa dengan sangat mulus lolos dalam seleksi ini. Ibarat memacu sepeda motor di perlombaan reli Paris-Dakkar, saya sengaja melintasi jalan berpasir dan berbatu dengan santai, padahal ada jalan aspal hotmix di persimpangan lain yang memang aturannya dipakai untuk lomba dan bisa memacu kendaraan dengan cepat. Dan antara saya dengan pemenang balapan “normal” lainnya sama-sama sampai finish tepat waktu. Yah, ndak usah ditebak maknanya, karena memang perumpaan tersebut ndak nyambung dengan masalah. Intinya saya berkelakuan sebaliknya dalam menghadapi seleksi ini dibanding teman-teman yang lain.

Perasaan syok inilah yang sedang saya pikirkan semenjak tadi pagi hingga tulisan ini di-publish. Mengapa Gusti Alloh memberikan nikmat yang besar ini pada saya? Bukan orang lain yang justru bisa jadi amat sangat berharap dan lebih pantas untuk memperoleh nikmat ini? Dan pasti saya yakin ada beberapa orang yang sudah mencoba berulang kali, menyulam asa tahun demi tahun demi mendapatkan kunci yang sudah saya genggam ini dengan sangat susah payah. Dan kenyataannya adalah satu orang pengecut yang nyaris tanpa usaha dan tidak tahu bersyukur yang mendahuluinya merebut kunci kesuksesannya. Dan berawal dari kalimat ini, yang sebenarnya memang ingin saya singgung di awal cerita, saya mohon maaf kepada rekan-rekan seperjuangan lain yang kebetulan membaca tulisan curhat colongan ini bila merasa tulisan ini adalah bentuk arogansi saya yang tak sengaja mendapat nikmat yang sebelumnya saya nafikkan dan sangat menyinggung kalian, terutama yang seperti yang diceritakan di tengah paragraf ini. Sama sekali saya tiada bermaksud untuk menggembar-gemborkan status baru yang saya ini, tetapi sejujurnya tulisan ini harapannya bisa menjadi bahan pembelajaran saya sendiri dan panjenengan semua tentang menyikapi nikmat yang tak terduga dan manajemen syukur-nya.

So, ada yang punya solusi buat bahan saya belajar bersyukur? 🙂