Jumat Pagi yang Menggetarkan Hati

Jumat pagi ini saya sengaja bangun lebih siang. Setelah melaksanakan ibadah wajib Shalat Subuh berjamaah dan men-tadarus-i Al-Quranul Karim yang sudah jarang saya sentuh, tubuh ini merengek manja ingin berbaring. Yah, mungkin karena paksaan jogging pagi  (yang membuat kaki saya sukses pegal2) dan aktivitas kurang penting lainnya yang cukup menguras tenaga sehari sebelumnya membuat tubuh saya merajuk. Subuh ini saya benar-benar merasa damai…

Tidak berselang lama saya tidur subuh, ditengah mimpi indah kuliah Master di Inggris, saya rasakan ponsel Nokia 2626 Pinky bergetar ritmik dua kali, tanda ada 1 SMS masuk. Cukup lama SMS itu saya hiraukan, setelah akhirnya mengalah bangun untuk menilik SMS tersebut karena waktu sudah menjelang siang. Waktu Dhuha itu saya bangun segar dan merasa masih damai…

Entah dari mana datangnya, ada perasaan kurang enak di hati saya setelah melihat preview 2 SMS teratas yang belum terbaca di ponsel. Awal kalimat pesan singkat tersebut sama-sama berawalan kata “Selamat” masing-masing dari Dede’ Nungky dan sobat Fauziyah Amy melalui SMS notifikasi akun Facebook. Jleger…!! Ingatan di otak ini langsung tertuju pada seleksi penerimaan CPNS.

Tiga minggu yang lalu saya memang sempat mengikuti ujian seleksi penerimaan CPNS Kabupaten Bantul. Niatan mengikuti seleksi calon abdi negara tersebut memang bukan murni keinginan saya. Harapan dan “dorongan” orang tua lebih mendominasi dalam intervensi cita-cita hidup saya ini. Saya akui, keinginan untuk menjadi abdi negara memang sangat-sangat kecil, hampir mendekati nol. Realitas tersebut mungkin datang dari stigma negatif saya terhadap PNS yang secara akumulatif terbangun di benak saya semenjak mengikuti Praktek Kerja Lapangan semasa kuliah dulu. Mungkin menjadi PNS akan saya pilih jika pilihan kerja tersebut memang hanya pilihan terakhir yang ada di bumi. Dan mungkin itulah kenyataan idealisme saya saat ini yang belakangan mulai runtuh dengan menghadapi realitas yang ada.

Maka demi meyakinkan diri, saya buka juga kedua SMS tersebut. Sopo nyono, perasaan saya benar 100%. Walaupun tidak semuanya menyertakan kata “CPNS” atau “PNS”, namun dari cara penulisan dan waktu kiriman pesan yang bertepatan dengan hari pengumuman penerimaan CPNS Kab. Bantul, membuat hati ini bisa menilai bahwa pesan tersebut memang murni ucapan selamat lolos CPNS, bukan “selamat ulang tahun”, atau bahkan “selamat menempuh hidup baru.” Dan tanpa disuruh, saya langsung menyalakan PC untuk mengecek kebenaran pesan tersebut di situs resminya.

Sekitar 15 menit waktu berlalu saya ngubek-ubek website resmi penerimaan CPNS Bantul, info yang saya inginkan tidak kunjung ketemu. Perasaan saya sudah campur aduk antara was-was, penasaran, dan frustasi. Ditambah dengan koneksi yang lelet, rasa frustasi semakin menjadi. Akhirnya karena sangat penasaran dan kalut, meluncurlah saya ke loper koran di dekat Kopma UGM dengan sepeda pinjeman tanpa pikir panjang untuk mendapat jawaban penasaran saya di koran KR. Setau saya itulah loper koran terdekat dari kos. Jeng…jeng…ternyata memang benar-benar ada nama saya di pengumuman! Bersama 3 kawan lain dari UGM dan 1 lagi entah dari mana asalnya mengisi penuh daftar pengumuman “pemenang audisi” CPNS untuk formasi Perekam Medis. Hari itu setelah melihat pengumuman di koran saya kecewa, karena di pengumuman putaran kedua ini lagi-lagi media elektronik, website CPNS Bantul, kalah cepat dengan media cetak. Belakangan saya baru tahu, ternyata di website resmi CPNS Bantul saya salah nge-klik link yang ada, sehingga tidak menemukan informasinya lewat media elektronik dan pindah hati ke media cetak. Tapi, saya tetep kecewa dengan pengelolaan website-nya, khususnya saat pengumuman putaran pertama.

Sekembalinya dari loper koran, saya terduduk lesu di kamar kos dengan ditemani rasa syok yang sangat menggetarkan hati saya di Jumat pagi ini. Betapa tidak, saya yang ikut seleksi CPNS ini dengan iseng-iseng dan setengah hati karena “dorongan” dari orang tua, bisa dengan sangat mulus lolos dalam seleksi ini. Ibarat memacu sepeda motor di perlombaan reli Paris-Dakkar, saya sengaja melintasi jalan berpasir dan berbatu dengan santai, padahal ada jalan aspal hotmix di persimpangan lain yang memang aturannya dipakai untuk lomba dan bisa memacu kendaraan dengan cepat. Dan antara saya dengan pemenang balapan “normal” lainnya sama-sama sampai finish tepat waktu. Yah, ndak usah ditebak maknanya, karena memang perumpaan tersebut ndak nyambung dengan masalah. Intinya saya berkelakuan sebaliknya dalam menghadapi seleksi ini dibanding teman-teman yang lain.

Perasaan syok inilah yang sedang saya pikirkan semenjak tadi pagi hingga tulisan ini di-publish. Mengapa Gusti Alloh memberikan nikmat yang besar ini pada saya? Bukan orang lain yang justru bisa jadi amat sangat berharap dan lebih pantas untuk memperoleh nikmat ini? Dan pasti saya yakin ada beberapa orang yang sudah mencoba berulang kali, menyulam asa tahun demi tahun demi mendapatkan kunci yang sudah saya genggam ini dengan sangat susah payah. Dan kenyataannya adalah satu orang pengecut yang nyaris tanpa usaha dan tidak tahu bersyukur yang mendahuluinya merebut kunci kesuksesannya. Dan berawal dari kalimat ini, yang sebenarnya memang ingin saya singgung di awal cerita, saya mohon maaf kepada rekan-rekan seperjuangan lain yang kebetulan membaca tulisan curhat colongan ini bila merasa tulisan ini adalah bentuk arogansi saya yang tak sengaja mendapat nikmat yang sebelumnya saya nafikkan dan sangat menyinggung kalian, terutama yang seperti yang diceritakan di tengah paragraf ini. Sama sekali saya tiada bermaksud untuk menggembar-gemborkan status baru yang saya ini, tetapi sejujurnya tulisan ini harapannya bisa menjadi bahan pembelajaran saya sendiri dan panjenengan semua tentang menyikapi nikmat yang tak terduga dan manajemen syukur-nya.

So, ada yang punya solusi buat bahan saya belajar bersyukur?🙂

5 thoughts on “Jumat Pagi yang Menggetarkan Hati

  1. Subhanallah…
    Selamat ya Lim…. ^_^
    Apa yang diputuskan Allah untuk qt memang itu yang terbaik buat qt… So selalu semangat dari cobaan dan selalu bersyukur atas kemudahan….🙂🙂🙂
    Ayoooo maem2…..!!!! Traktiran!!!!!!!😀😀

    • Alhamdulillah…ada yang comment! hehe..
      iya nih ri, lagi belajar mensyukuri nikmat yang awalnya memang kunafikkan, semoga selama proses menssyukurinya bisa kuperoleh banyak pelajaran berharga!

      Sinio kalo mau maem2, ke jogja sini!😀

  2. amien..amien…amien…
    beneran loh lim???
    aq liburan semester ini mau maen2 ke jogja loh sekeluarga….
    nanti traktir yah sekeluarga….hwkkwkwkwk…. ^___^

    • ok dah! welcome to jogja!
      gampang deh soal traktiran…kamu pesen semaumu dimana, tar bon-nya kukasih ke ortumu!😀

      (kapan neh rencana ke jogja? sekalian kopdar pye? :D)

  3. Pingback: Saya Ilfil dengan Saos Tomat! « Halim dan Lembaran Hidupnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s