Mari Belajar dari Keledai Bodoh

Tulisan ini saya buat setelah sebelumnya ada suatu kondisi tidak nyaman yang sangat sangat berpotensi menimbulkan perpecahan diantara teman-teman satu angkatan saya di kampus. Terlebih, tulisan ini saya buat sebagai sarana permohonan maaf kepada pihak-pihak yang baik secara langsung maupun tidak ikut terkena kondisi tidak mengenakan tersebut, wa bil khusus kepada teman-teman terdekat dan sahabat-sahabat satu kelas saya. Saya buat tulisan ini bukan karena latah, ikut-ikutan meniru konsep tulisan-tulisan sebelumnya yang sudah nampang duluan, tetapi insyaAlloh tulisan ini murni dari lubuk hati terdalam sebagai manusia yang penuh khilaf. Manusia yang mirip seekor keledai bodoh. Selalu jatuh di lubang yang sama berulang kali.

Seperti yang telah disebutkan di atas, kondisi tidak nyaman tersebut, berasal dari masalah foto bersama. Yah, dari masalah sepele ini bisa mendatangkan musibah resiko putusnya ukhuwah rekmediyah (tali persaudaraan mahasiswa rekmed). Semua berawal dari ide membuat buku tahunan bagi teman-teman rekam medis angkatan 2007 yang beda dari angkatan-angkatan sebelumnya. Lain dari buku tahunan yang sebelumnya, yang hanya berisi biodata dan foto mahasiswa dan dosen rekmed, buku tahunan kali ini cukup obsesif: buku tahunan harus menyertakan foto bebas yang ekspresif di luar foto yang biasanya terpampang bersama biodata diri. Foto bebas itu nantinya diambil di titik-titik khusus di kota jogja yang menyimpan nilai kenangan tersendiri bagi teman-teman rekmed semua, sesuai dengan tema yang akan diambil buku tahunan kali ini: “Rekmed, Never Ending Memories.” Seolah terdengar seperti tag line pariwisata Jogja kan?

Demi memfasilitasi foto bebas untuk satu angkatan kami yang berjumlah kurang lebih 80 orang itu, kami, anak-anak yang punya kerelaan hati mengurus pembuatan buku ini, putar otak bagaimana caranya jumlah mahasiswa 80 orang tersebut bisa ditampung semua dalam foto bebas yang juga bernilai artistik. Akhirnya, karena tidak mungkin menempatkan 80 orang dalam satu lokasi untuk foto bersama (jelas kesan artistiknya hilang, ditambah akan susah dikenali wajah-wajah ekspresif tiap orang di foto), kami memutuskan untuk membagi sejumlah orang tersebut dalam beberapa kelompok. Alasannya sederhana, agar tiap orang dapat berekspresi sebebas mungkin dengan kelompok yang ada. Ditambah setiap kelompok boleh memilih anggotanya sendiri-sendiri, sehingga foto dapat dibuat tema yang menarik dengan menyesuaikan lokasi foto dan properti yang disediakan tergantung kekompakan kelompok. Pilihan ini didukung kuat karena adanya rencana foto bersama satu angkatan pada halaman khusus, sehingga kami pikir tidak akan ada resiko konflik lewat pembagian kelompok itu. Menurut kami ya itu opsi paling mudah dan sederhana untuk dilakukan, baik dalam pembagian orang-orangnya ataupun pemilihan lokasi fotonya.

Hari demi hari dalam masa jeda pengumpulan daftar kelompok, kami merasa langkah yang sudah diambil adalah pilihan yang tepat. Hampir tidak ada komplain yang berarti tentang pembentukan kelompok. Yang ada hanyalah fakta bahwa kami harus bersabar menunggu teman-teman lain yang agaknya terlalu lama dalam menyetorkan daftar kelompok mereka. Namun, bagai  petir menyambar di tengah langit biru cerah, sehari sebelum tulisan ini dibuat, mulai beredar kabar tak menyenangkan tentang pembentukan kelompok. Beberapa orang kawan, karena mungkin kepopuleran atau karena daya tarik mereka yang begitu memesona, sempat diaku-aku oleh tiga buah kelompok sekaligus pada hari terkahir masa penyerahan daftar kelompok. Entah apa yang terjadi, mungkin saja karena kurangnya komunikasi dengan kelompok terkait, yang jelas beberapa kawan tersebut diharapkan oleh tiga kelompok yang berbeda. Kontan saja implikasi hal ini mengarah pada anggota-anggota tiga buah kelompok yang sebelumnya telah merasa merekrut mereka. Imbasnya, karena suasana seperti ini sudah bisa dikatakan iklim persaingan, kelompok yang satu saling kontra dengan kelompok yang lain, terlebih pada beberapa orang kawan kami ini yang di salah satu pihak ada yang mengatakan inkonsisten, sementara di pihak lain mengatakan merekalah yang berhak menentukan kelompok mana yang akan dipilih. Ukhuwah rekmediyah di ujung tanduk, perang saudara akan berkecambuk bila keadaan tak segera dinormalkan. Belakangan mereka telah menentukan pilihan terbaik dengan bergabung bersama kelompok yang mereka anggap netral, tak ada hubungannya dengan pihak lain.

Belajar dari perbedaan pendapat

Dari cerita di atas, dapat kita tarik beberapa pelajaran. Selama ini dari pengamatan saya dan beberapa teman lain membuktikan angkatan kami sebagian besar mempunyai pola pengambilan keputusan yang reaktif timbang yang visioner. Contohnya saja seperti cerita di atas, angkatan kami tiba-tiba langsung kebakaran jenggot dengan adanya kejadian rebutan beberapa kawan tadi. Mereka dengan serta-merta kompak baru bereaksi terhadap kondisi kritis yang ada. Sedikitpun hampir tidak ada yang komplain terkait pembagian kelompok ini dari pengumuman jauh hari. Hampir tak ada kelompok yang sadar akan resiko ini, bahkan para korbannya sendiri. Dari poin ini kita bisa petik tiga pelajaran sekaligus, yaitu pentingnya mengkomunikasikan pendapat kepada orang lain,menghargai pendapat, dan pengambilan keputusan hidup yang visioner bukan berdasarkan reaksi sesaat saja.

Komunikasi sangat penting sifatnya dalam pergaulan sosial. Bagaimana bisa kita akan dapat menyampaikan ide dan pendapat dengan baik ke orang lain tanpa adanya komunikasi? Saya yakin semua orang yang pernah bergaul pasti menyadari arti pentingnya komunikasi. Komunikasikan pendapat kita dengan baik dan jelas kepada orang lain agar mereka mengerti keadaan kita atau keputusan apa yang telah kita ambil. Jangan sampai kita yakin akan keadaan atau pendapat  seseorang tanpa mengkomunikasikannya dulu dengan orang terkait. Akan runyam hasilnya nanti, saling merasa benar sendiri tanpa pernah komunikasi.

Setelah terjalin komunikasi yang baik antara kita dan orang lain, kemungkinan untuk timbulnya perbedaan pendapat sangat mungkin. Ini memang takdir manusia sebagai makhluk yang berakal, mempunyai logika yang ia pahami terhadap suatu kondisi yang terjadi. Hal ini wajar, kita manusia demokrasi selalu diwarnai perbedaan pendapat. Yang terpenting bagi kita adalah bagaimana cara kita saling menghargai pendapat, sehingga apa yang kita perbuat tidak merugikan pihak lain.

Setiap diri kita adalah pemimpin, minimal pemimpin bagi dirinya sendiri. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang visioner, mengambil keputusan yang mempunyai tujuan ke depan. Mencerna informasi yang ada baik-baik, untuk dijadikan pijakan langkah selanjutnya. Kebalikan dari visioner, pengambilan keputusan hidup sering juga dilakukan secara reaktif. Artinya menanggapi apa yang ada persis di depannya. Pengambilan keputusan seperti ini biasanya dilakukan secara cepat, tanpa persiapan,  dan bertahan hanya dalam waktu sesaat.

Sekali lagi, permohonan maaf

Seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya pada awal tulisan ini, saya dengah tulus hati mohon maaf dengan amat sangat kepada teman-teman semua yang merasa dipusingkan dengan masalah ini. Ini memang sepenuhnya tanggung jawab saya sebagai pengusul ide pembuatan kelompok dan sudah semenjak kemarin muncul berita tak sedap itu muncul, beban moral yang saya emban semakin berat. Dengan ide yang saya usulkan tersebut, hampir saja tali silaturahmi kita putus di masa akhir menjelang kelulusan. Seandainya saja bila masalah ini tak diselesaikan dengan cepat, saya akan dikutuk seumur hidup oleh teman-teman angkatan 2007 sebagai provokator pemecah angkatan. Hal ini bukan terjadi sekali ini saja, karena masalah komunikasi  dan sosialisasi dalam pergaulan yang kurang, kebanyakan ide-ide yang saya lontarkan semenjak jadi ketua MRF hingga hari ini tidak populer dan menuai banyak penolakan, belakangan malah menuai perpecahan. Permintaan maaf ini lebih khusus saya tujukan kepada teman-teman dekat saya yang terus membersamai sejak pembentukan MRF. Jujur, nilai diri saya bagai teknologi digital semacam handphone di masa informasi ini, mendekatkan yang jauh tetapi menjauhkan yang dekat.  Saya masih mengulangi kesalahan-kesalahan pada masa dahulu yang belum bisa saya perbaiki. Yah, katakanlah saja saya keledai bodoh yang jatuh di lubang yang sama berkali-kali. Keledai yang akan terus terjatuh di lubang yang sama bila tak ada dukungan dari para sahabatnya.

2 thoughts on “Mari Belajar dari Keledai Bodoh

  1. Hmmm… seharusnya memang ga perlu terjadi hal2 semacam ini
    Klo boleh saran, dibagi saja kelompoknya, nanti bisa tuker2an klo memang dibutuhkan
    jadi setidaknya menghindarkan berebutan teman… pasti rebutan sama teman 1 genk ato yang Fotogenic nie… hahahaaa…

    maaf klo sarannya kurang berkenan
    just wanna help
    buat Didi, yang penting niat kamu Di
    klo pun ada masalah itu sudah biasa
    untuk pembelajaran hidup aja
    smangat yaaa…🙂

    • terima kasih untuk mbak fitra yang sudah berkenan untuk meramaikan blog saya! hehe…😀

      untuk pemecahannya kami sudah dapat mba, akhirnya dipilihlah satu lokasi besar, wich is UGM untuk foto-foto bersama. jadi lebih adil bukan?

      terima kasih atas saran dan wejangannya mba! stay tune di blog saya yah! hahaha…😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s