Reserach Day-5: Thanks God It’s Friday!

Hari jumat yang hangat ini saya berangkat menuju “medan pencarian data” PKU Muhammadiyah Bantul dengan gontai. Hampir tak ada semangat sekali. Walupun saya ndak bisa menafikkan memang masih banyak responden yang belum saya peroleh sebagai sumber data penelitian. Huahmm…lebih setengah perjalanan ke Batul bersama Mr.P saya habiskan dengan menguap dan mata merem-melek, sayu, dan mungkin berwarna agak kemerahan. Ya, akibat kelelahan malam hari sebelumnya dan mungkin kondisi badan dan pikiran ini sudah memasuki titik jenuhnya, saya mengantuk selama perjalanan sambil mengendarai sepeda motor. Bagi njenengan semua yang baca tulisan ini, jangan pernah meniru kebiasaan buruk saya yang satu itu: mengendarai sepeda motor sambil mengantuk! Jangan ditiru di rumah! Don’t try this at home– seperti peringatan acara sportaninment asal Amerika: Samckdown. Apalagi jika njenengan juga ndak memakai helm SNI, berati njenengan melanggar Undang-undang No. 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan pasal 106 ayat 8 dan selain kecelakaan dampak negatif lainnya adalah njenengan akan diperingatkan Pak Polisi, Sang Penegak(?) Keadilan. Hihihi…kaya superhero aja yah?

Nha, singkat cerita setelah saya sampai di PKU Bantul, saya tak berharap lebih dari dua responden yang bakal bisa saya wawancarai. Pasrah akut ini timbul karena yang sudah-sudah rata-rata per hari saya hanya dapat dua responden, selain itu saya memang sudah dijanjikan akan bertemu dr. Susianti Miranda dan Mbak Fika, salah seorang staf Rekam Medis PKU Bantul.

Rencana pertama bertemu dengan dr. Susi berjalan begitu saja. Lancar, tanpa kendala harus menunggu terlalu lama dokter harus menangani pasien, paling hanya menunggu sebentar beliau hadir, karena tak disangka saya ternyata datang lebih gasik juga dari seorang dokter praktek! Hehehe… dr. Susi adalah dokter IGD sekaligus poliklinik umum. Kebetulan Beliau tadi pagi mendapat jadwal praktek di poliklinik umum dan bertepatan dengan hari jumat-hari pendek-jadi saya bisa menemui beliau dengan mulus tanpa banyak gangguan pasien. Mba Fika saya wawancarai setelah sholat jumat karena memang beliau mendapat tugas dadakan membuat laporan untuk jajaran direksi, sehingga terlalu sibuk untuk diganggu pada jam kerja.

Sebenarnya hari ini saya juga mengincar satu dokter lagi, yaitu dr. Ana, beliau dokter spesialis syaraf, tetapi sudah saya tunggu lama sekali di ruang tunggu pasien beliau tak kunjung datang, jadilah saya mulai bosan dan untuk mengusir kebosanan tersebut jalan-jalanlah saya ke tiap bangsal mencari “mangsa” tambahan. Dua bangsal saya sambangi, ternyata perawat kepala bangsal kedua bangsal sedang tidak ada jadwal jaga pada pagi harinya. Daripada tenaga saya untuk jalan-jalan mubadzir, dengan ragu saya melangkah juga ke bangsal ICU dan usaha saya tidak sia-sia. Walau menunggu sebentar karena sedang mengikuti pengajian, saya bertemu juga dengan Mbak Bidal, perawat kepala bangsal ICU. Beliau, seperti kebanyakan karyawan PKU Bantul lainnya adalah pribadi yang ramah dan gampang sekali tersenyum. Tak sulit saya mendapat informasi yang cukup dari beliau, bahkan beliau berbagi pengalaman tentang pekerjaannya dulu sewaktu masih jadi perawat di Jakarta.

Thanks God it’s Friday, alhamdulillah ini hari jumat. Tidak lama setelah saya mendapat tambahan responden tak direncanakan, setelah turun ke ruang Rekam Medis, Mbak Yuni, partner Mbak Fika di bagian pelaporan menawarkan kesediaanya untuk diwawancarai. Kejutan kecil lainnya yang membuat rasa kantuk saya hilang berganti pijaran semangat. Rencana awal saya memang akan wawancara beliau setelah selesai dengan Mbak Fika, namun karena Mbak Fika terlalu sibuk mengerjakan laporan dadakan, mungkin merasa iba atau memang mungkin daripada nganggur tanpa kerjaan tawaran yang manis itu sampai kepada saya. Pijaran semangat yang mulai menyala meledak menjadi petasan keceriaan ketika saya berbincang dengan beliau. Hampir sepanjang wawancara kami ketawa-ketiwi, entah itu menertawakan pernyataan Mbak Yuni yang aneh, gaya bicara beliau yang jenaka, atau menertawakan salah ucap atau hal-hal ndak penting lainnya di luar bahasan penelitian. Pun demikian ketika wawancara dengan Mbak Fika. Tingkah beliau yang jenaka, mengusir rekan lainnya yang mengajak bicara dengannya, karena beliau tak ingin suara lain terrekam selama wawancara.

Saya pulang dengan wajah gembira dan perasaan bangga. Selain jumlah responden yang saya dapatkan memecahkan rekor terbaru, saya juga tertular keceriaan dari Mbak Fika dan Mbak Yuni.  Thanks God it’s Friday.😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s